Memaafkan dan Melupakan.

/

9/12/10

Saya atas nama diri saya sendiri mengucapkan:
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI sekian sekian HIJRIAH, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Maaf? Iya dong, kata orang lebaran itu harinya maaf-maafan. Tradisi yang bagus, really. Yang namun lalu mengingatkan gua kepada sebuah filosofi.. "Bahwa memaafkan tidak sama dengan melupakan".

Memaafkan tidak sama dengan melupakan.
Orang sering bilang di hari lebaran "mari melupakan yang lalu dan mulai kembali dari 0" atau sejenisnya. Bullshit. Oke mungkin barusan agak sedikit kasar.. Yang mau gua utarakan adalah bahwa there is no such thing as "mulai dari 0" dudes. People act in the present based on what happened in the past. Manusia membuat keputusan berdasarkan pengalaman, yang notabene berasal dari kejadian-kejadian terdahulu.

Seorang ibu menutup rapat tasnya saat berada dalam angkot karena pernah kecurian di dalam angkot tahun lalu. Seorang remaja trauma berpacaran karena pernah dikhianati pacar terakhirnya 2 tahun lalu. Shit happens. Si ibu bukan tak mungkin sudah memaafkan pencuri tasnya, and that poor girl juga sudah berteman baik dengan mantan pacarnya. Tapi apakah mereka lupa? Probably not.

Tidak melupakan bukan berarti kiamat, atau kalimat tidak lebaynya: suatu hal yang buruk.

Orang bilang "jangan jatuh di lubang yang sama dua kali". Jadi jatuh dulu, jangan jatuh lagi kemudian.
(Mengingatkan gua pada seorang teman. Dia pernah bercerita ke gua, bahwa dia lebih bodoh dari keledai. Mengapa? Karena jika diumpamakan, dia tidak jatuh saat melewati lubang pertama kali, tapi malah jatuh waktu melewati lubang itu lagi. Ah itu sih elo aja yang bego, kata gua.)

Anyway, tentang jangan jatuh di lubang yang sama dua kali.. Intinya lo harus belajar dari kesalahan lo yang terdahulu. Kalo dicari, banyak banget perumpamaan dan istilah-istilah untuk line tadi. Jadi kalo menurut gua sih, kesalahan itu bukan untuk dilupakan. Dimaafkan iya, jelas, itu yang selalu dibilang orangtua ke kita kan? Tapi kalo untuk dilupakan, sayangnya gua kurang setuju.

Gua sendiri tipe orang yang ga pernah lupa, kecuali emang diniatkan untuk lupa, dan itu jaraaang banget. Just like a crumpled paper, a broken mirror. Once it is crumpled, once it is broken, ga bakal bisa mulus lagi. Everything leaves a mark. Every single thing. Yang penting adalah gimana lo memanfaatkan memori kesalahan tersebut dari sesuatu yang kurang menyenangkan jadi sesuatu yang bermanfaat, gimana lo menggunakannya untuk membentuk pribadi lo jadi lebih baik.

Jadi jangan mulai dari 0. JANGAN PERNAH. Gunakan semua yang lo punya di masa lalu, baik-buruk, untuk lo yang lebih baik di masa depan

Adios!

0 bacotan:

Post a Comment

Hajar yuk. Menurut eloo?